Tampilkan postingan dengan label cur-hat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cur-hat. Tampilkan semua postingan

Salam Hangat Untuk Desaku dan Segala Kenangan Manis Pemanggil Rindu

Sumber gambar: unsplash.com


Teruntuk gerimis teman menulisku, aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu. Tentang seorang gadis dengan segala resah di hatinya. Menyimpan sebuah ragu akan jalan yang ditempuhnya. Gadis itu adalah aku, yang kini tengah dirundung pilu. Hanya bisa menuliskan curahan hati pada sebuah buku. Lembar demi lembar ku tuliskan sebuah cerita tentang kerasnya hidup di kota, tentang perjuangan meraih cita-cita. Tak lupa ku tulis sebait doa untuk jiwa-jiwa yang begitu setia mengorbankan segalanya “Ayah, Ibu, aku berdoa semoga kalian baik-baik saja, selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa, dilancarkan segala urusan dan selalu diberi kesehatan.”

Di dalam bilik sempit ini aku mengukir rindu, rinduku pada bocah cilik bermata sendu, rinduku pada hangat peluk Ayah dan Ibu, rinduku pada kokok ayam di pagi hari, rinduku untuk kembali. Telah ku torehkan begitu banyak kenangan, telah ku rangkai dengan indah sebuah cerita, telah ku jatuhkan hatiku pada kampung halamanku. Desa yang asri dengan udara sejuk dan ramah penduduk. Desa kecil yang mengajariku banyak hal akan arti persahabatan, persaudaraan, dan makna sebuah kehidupan.

Desaku, sejauh mata memandang selalu datang gambar-gambar samar dalam ingatan. Saksi bisu perjuangan gadis cilik yang mencoba membawa mimpi-mipinya terbang, dan benar saja sebuah mimpi membawaku berlari ke kota ini. Terasingkan dan kesepian. Hanya sebuah tekad sebagai teman. Entah berapa banyak air mata yang telah ku titihkan, demi sebuah cerita indah di hari kepulangan. Aku menyadari banyak harapan yang menantiku di sana. Ada yang tak berhenti berjuang dan berdoa. Dalam malam-malam sunyi ia bersimpuh memohon yang terbaik untuk anak gadisnya. Andai ku bisa ingin ku percepat perputaran waktu. Tak ingin aku melewati masa ini. Tapi aku sadar, sukses adalah sebuah proses panjang dengan tak sedikit perjuangan, jadi aku harus menerimanya dengan hati yang lapang.

Kota memang menawarkanku begitu banyak kemudahan, memberiku begitu banyak pengalaman. Mengenalkanku pada sebuah kata, yaitu kemewahan. Meski demikian, hatiku tak pernah pergi dari kampung halaman. Di sana menyimpan sejuta kenangan. Aku ingin pulang, menyapa kembali mentari jingga menjelang petang dan menikmati gerimis dengan tenang. Menjadi anak desa bukanlah suatu kehinaan tapi justru sebuah hadiah indah yang Tuhan berikan. Dengan segala keindahan alam yang menawan, menjadikannya tempat yang begitu nyaman. Sungai, sawah dan ladang sebagai teman sepanjang perjalanan. Setiap sudutnya memberiku begitu banyak pelajaran, mengajariku arti kesederhanaan dan kesahajaan.

Bukan aku tak menyukai kota, hanya saja aku sudah terlanjur jatuh hati pada desa. Ku kirimkan salam terhangat untuk desaku yang ku rindukan, tunggulah daku pulang membawa sebuah kesuksesan.

"Karena rindu bekerja dalam diam, ketika turun hujan, ketika senja datang, dan ketika mata ini hendak terpejam. Biarlah rindu ini menemani setiap doa dan harapan yang ku panjatkan. Hanya satu inginku, aku ingin pulang."



Ditulis Agustus 2017 di  kamar kos ukuran 3x3 m Wisma Annisa 🤭

Pernah dipublikasikan di https://www.hipwee.com/narasi/salam-hangat-untuk-desaku-dan-segala-kenangan-manis-pemanggil-rindu/


Continue reading Salam Hangat Untuk Desaku dan Segala Kenangan Manis Pemanggil Rindu

Surat Buat Sahabat


24 Juni 2014, Curug Mini, kec Mrebet, kab Purbalingga, Jateng
Sahabat, aku yakin kalian pasti masih ingat betapa hebatnya kita dikala itu, mengalahkan kerasnya hidup yang mungkin  tak seberapa bagi orang lain tapi itu luarbiasa. Kita bersama melebarkan senyum manis bahkan tak jarang menggelakan tawa bahagia yang sekaranng aku tak bias meraskannya lagi, menangis, marah, kecewa pun ikut menjadi saksi betapa hebtanya kita. Melangkah bersama, mengejar semua harapan, mimpi, dan cita-cita. Kini kita telah mengambi jalan masing-masing untuk melanjutkan langkah itu, dan kuharap kita semua berada pada arah yang tepat. Saat kutengadahkan wajahku ke atas sana memandang betapa luasnya langit biru terbesit dibenakku akankah kita akan berjumpa kembali, berbagi kisah hebat yang telah kita lewati selama ini, mengenag kembali kisah hebat kita, dan andai waktu itu datang apakah kalian masih tetap seperti dulu ? sahabatku yang penuh dengan kasih sayang, sahabatku yang kuat, sahabatku yang hebat, sahabatku yang TERISTIMEWA. Mungkin terdengar terlalu berlebiha tapi memang itu adanya, satu yang perlu kalian tau saat ini aku sanagt merindukan kalian ingin rasanaya menggandeng tanagan kalian melangkah bersama dibawah hangatnya sinar sang surya menyapa lembutnya hembusan angin menatap birunay langit kota PERWIRA.

AKU RINDU KALIAN, itu yang kurasakan saat ini. Meski telah kutemui teman-teman baru disini tapi tak ada yang sehebat kalian yang bias membuat diriku menjadi apaadanya aku. Mungkin terlalu dini aku katakana ini semua, waktu masih akan terus berjalan mengubah segalanya tapi aku yakin rindu ini akan terus menerpa diriku sampai aku bias bertemu dan memeluk kalian. Tak pernah ku berhenti berharap agar kelak datang waktu dimana aku bias melepas semua rasa rinduku ini. Sekali lagi aku rindu kalian sahabatku, kalian HEBAT.





Jogjakarta, 28 Agustus 2015

Continue reading Surat Buat Sahabat